Sabtu, 21 Maret 2015

Rekah Pisah dalam Indah

Bukan waktu yang salah
Bukan juga keadaan yang lengah
Ini sebuah indah, yang pantasnya dianggap berkah

Jika kita menyukai pertemuan
Jangan takut pada perpisahan
Mereka berdampingan
Kebersamaan terasa sesingkat kilatan petir
Membuatku berpikir...
kita sudah ditunggu akhir
Tawa getir takkan berarti apa
Dunia memang fana
Kebahagiaan ini salah satunya

Tuhan... aku ingin tertawa
Mengapa baru kini aku sadar tentang semua?
Tentang harap yang dapat menguap sekali kerjap
Tentang pisah yang selalu merekah di tengah indah

Malam terasa lebih kelam
Pun mencekam
Aku merinding
Sekaligus pening
Aku takut
Sampai sakit perut
Aku rindu
Ingin seperti dulu

Saat tak ada sedu
Yang membelenggu di antara rindu
Saat belum indah
Dan jauh dari kata pisah

Malam jadi saksi
Aku yang sendiri
Dan ketakutan tentang perpisahan kita nanti

 21/03
-C-

[Review Maret] AUTUMN SKY

Judul: Autumn Sky 
Penulis: Aiu Ahra
Penerbit: Bentang Belia 
Tahun terbit: November 2012
Tebal: 207 hlm
Banyak orang bisa mendapatkan cinta yang mereka inginkan 
Tapi aku? Kenapa aku tidak bisa? 
Benarkah aku jatuh cinta kepada orang yang salah?
Aku tidak pernah mendapatkan apa yang kumau sedari dulu, selalu begitu.
Ayahku yang menyebalkan, kepindahanku ke Kyoto, ibu baru, dan kakak baru.
Semuanya berkonspirasi untuk menyulitkan hidupku. 
Jadi, jangan pernah salahkan aku jika aku jadi seperti sekarang.
Jangan coba dekati aku, aku tidak berminat untuk bersikap baik pada semua orang.
Kecuali, kepada dia, yang sayangnya terlarang untukku.

Autumn Sky menceritakan Chika Suzu yang harus menelan pil pahit di usianya yang masih belia. Kedua orang tua Chika berpisah, entah karena alasan apa. Hak asuh jatuh ke tangan Papa--yang mengharuskan Chika meninggalkan Indonesia, juga Mamanya. Bersama dengan Papa, Chika pergi ke Kyoto. Di sana, Chika dipertemukan dengan seorang wanita seumuran Papanya dan anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dari Chika; calon ibu dan kakak tirinya. 

Novel ini sukses membuat saya ingin memiliki sosok kakak laki-laki seperti Yukito--kakak tiri Chika. Sifat Yukito manis dan terkadang jail. Hal inilah yang membuat Chika nyaman bertahun-tahun menjadi adik tirinya. Dan rasa nyaman yang disalahartikan ini kemudian memunculkan masalah diantara mereka. 
"Kamu dengarkan Niichan baik-baik. Aku kakakmu, kamu adikku. Selamanya akan begitu. Oleh karena itu, aku akan selalu melindungimu dan membuatmu tersenyum. Itu janjiku." -Yukito (hal. 17)
Memasuki SMA, Chika masih bertahan pada sikapnya yang cuek bebek itu. Ia jarang bergaul dan lebih suka menyendiri. Di rumah, Chika hanya berbicara pada Yukito. Bahkan Chika lupa, kapan terakhir kali ia bicara dengan Papanya. Pernikahan Papa dan Ibu tirinya--Ibu Yukito--membuat Chika semakin marah dengan Papa, selain marahnya karena telah memisahkan dia dengan Mamanya. 
 Di sekolah barunya, sebuah kejadian tidak disengaja menyebabkan Chika bermasalah dengan seorang kakak kelas--sok--seram bernama Hwang Min Hyun. Tidak sampai di sana masalah yang Chika temui. Papa memberikan Chika alamat surel Mamanya yang kini berada di Surabaya. Namun, hanya sekali Mama pernah membalas surel yang Chika kirim. Sampai akhirnya Chika tahu, siapa orang dibalik alamat surel itu. 
Biasanya, Yukito adalah orang yang paling ada untuk Chika disaat dia memiliki banyak masalah. Tapi, kehadiran seorang gadis yang menarik hati Yukito, membuat semuanya berubah. Lalu, kepada siapa Chika kini bisa berbagi? Papa? Chika mungkin sudah lupa bagaimana suara Papa. Ibu? Tentu tidak mungkin. Chika sungguh merasa kesepian. Dan merindukan Mamanya.

"Sendirian... kata itu kembali menghampiri hidup Chika. Saat ia sedang butuh teman bicara, tak ada yang bisa mendengarnya. Yukito, satu-satunya yang selalu mendengarnya, sedang sibuk dengan dunianya sendiri." (hal. 130)
Novel dengan latar Negeri Sakura ini lumayan enak dibaca waktu liburan atau waktu senggang. Bahasanya meski nggak begitu santai--dalam artian tidak memakai bahasa ibukota--tetapi tetap meninggalkan kesan ringan saat membacanya. Di buku ini juga, buat saya pribadi, menambah sedikit pengetahuan tentang Jepang (saya anaknya jarang baca buku berlatar luar Indo, ehe). Genre bukunya juga tidak bisa dikatakan full teenlit, karena di sini dibahas pula hubungan kacau antara Chika dan Papanya akibat perceraian Papa dan Mamanya. Yang paling bikin sedih, waktu Chika rindu Mamanya, tapi tidak tahu bagaiamana cara menghubunginya... huh.
 
Overall, novel ini bagus dan saya merekomendasikan teman-teman untuk membacanya. Tetapi, sayang sekali ending-nya sedikit menggantung mengenai hubungan Chika dan Min Hyun. So, siapkan imajinasi masing-masing, ya. :D

Kalimat penutup di lembar terakhir terbilang menarik, saya suka. 

"Kini keduanya menikmati langit sore musim gugur hingga malam menjelang. Chika tak bisa berhenti tersenyum. Dulu langit musim gugur yang menjadi saksi kesedihannya dan kini langit musim gugur pula yang menjadi saksi untuk kembalinya kebahagiaan yang ia dambakan." 
*
-Diikutkan dalam #ReviewMaret @momo_DM @danissyamra @ridoarbain di sini-

Sabtu, 31 Januari 2015

Tentang Sebuah Cerita


Masih kuingat sekali dua puluh enam hari yang lalu, ketika aku pertama kali melihatmu. Duduk manis dibaris kedua. Pakaian yang cukup nyentrik ditambah statusmu sebagai seorang murid baru membuatku tidak berhenti bertanya-tanya. Aku ingin tahu siapa kamu. Seorang laki-laki bertubuh lebih tinggi dariku dengan alis tebal hitam pekat yang memikat. Aku sadar ini terlalu cepat. Mungkin ini sebuah ketertarikan sesaat. 

Hari-hari kulewati sembari menanti pertemuan kita yang hanya dua kali dalam satu pekan. Itupun bisa berkurang sewaktu-waktu apabila kesibukan pribadi membuat aku, pun kamu, tak dapat hadir. 

Tiga jam yang kumiliki untuk bersamamu dalam sebuah ruangan selalu kumanfaatkan seefektif mungkin. Usaha-usaha kecil mulai kulakukan untuk mencari tahu banyak hal tentang sosokmu. Si Alis Tebal yang tak pernah bersuara; yang selalu asyik dengan gadgetnya; yang beberapa kali menoleh saat kutatap lama-lama. 

Mengetahui namamu saja tak membuatku puas. Apa yang ingin kuketahui, harus kucaritahu sendiri. Itu prinsipku. 

Malam ini—entah disebut keajaiban atau kebetulan—kita berteman dalam salah satu jejaring sosial. Maya memang. Padahal yang kuinginkan adalah perkenalan nyata. Tapi, tak apa, aku cukup merasa bahagia. 

Aku tidak tahu bagaimana esok ’kan terjadi. Akankah ketertarikanku menjadi sebuah rasa yang lebih, atau berhenti sampai di sini. Aku tidak bisa menduga apa yang akan selanjutnya Tuhan ukir dalam petualanganku di dunia. Mungkin sebuah perjalanan menyenangkan atau pencarian menyakitkan. Aku tak mampu membaca apa nanti aku dan kamu bisa jadi satu; hingga berubah nama menjadi 'kita'. 

Jika memang kita hanya sebuah ilusi, aku ingin setidaknya menyimpan kisah singkat ini supaya abadi. Supaya nanti bisa kuingat lagi. 
Jika memang kita akan menemukan jalan yang sama untuk bertemu di satu titik, aku ingin setidaknya merekam perjalanan ini. Supaya tak ada satupun momen yang kulupakan. 

Aku ingin untuk setidaknya tidak jatuh terlalu dalam; supaya tak ada lebam yang terasa di malam kelam. 
Karena sesungguhnya yang paling menyakitkan dalam menyayangi diam-diam adalah ketika dia berada di sampingmu, namun untuk menyentuhnya pun kamu tidak berani. 

Biarlah suka tetap jadi suka. Jangan jadi rasa sayang yang hanya bikin pengang.



-C-

Minggu, 04 Januari 2015

Booklet Sisa Satu

Waktu itu tanggal 17 September tahun.... 2013. Kalau nggak salah. Kalau salah, ya, maafin. Jadi berhubung hari itu adalah Hari Palang Merah Indonesia, aku dan teman-teman selaku anggota PMR (Palang Merah Remaja) dapat dispensasi untuk ikut upacara di Lapangan Renon. Ya udah, paginya kita ke Renon, terus upacara. 

Kisahnya bermula di sini, nih... :)) 
Jadi sehabis upacara, kami (anggota PMR dari hampir seluruh SMP/SMA di Denpasar) dikumpulin di pinggir lapangan. Terus kita dikasih semacam souvenir lucu-lucu gitu deh. Ada berupa kipas angin tangan yang isi gambar (kalau nggak salah) orang naik motor nggak pakai helm terus di sebelahnya ada gambar pocong. Mungkin maksudnya kalau naik motor terus nggak pakai helm, nanti didatangin pocong. :'] Hahaha, nggak deng. Aku sendiri kurang mengerti maknanya, tapi itu lucu banget. Selain kipas tangan, ada juga pin, stiker dan booklet.
Nah, terus, setelah dibagikan barang-barang itu, kami 'dilepas' ke jalan raya untuk bagiin benda tadi kepada para pengendara. Ih, aku seneng banget! Ini pengalaman pertama buatku. Sejak lama aku memang pengin banget ikut kegiatan sosial yang kita-nya terjun langsung ke lapangan. Biasanya aku hanya bisa melihat orang-orang dari komunitas atau perkumpulan tertentu yang jalan-jalan di jalan raya sambil bagiin selebaran atau souvenir kecil seperti yang aku bawa. Detik itu, saat aku mulai ngeloncatin got menapaki trotoar, dengan bangganya aku menatap jalan raya, "Woi, gue mau terjun payung langsung nih. Mau seru-seruan." Kurang lebih begitu isi hatiku. 
Lampu merah menyala. Aku dan teman-teman berhamburan ke jalan raya, menghampiri satu persatu pengendara sembari menyerahkan booklet, pin, stiker, dan kipas tangan pocong tadi. Satu pengendara mendapat salah satu dari empat benda tadi. Satu, dua, tiga... Benda-benda itu mulai berkurang. Dan pengendara yang berhenti sudah hampir semua mendapatkan souvenirnya. 
Entah milikku atau milik temanku yang diberikan kepadaku; aku lupa. Yang pasti ketika detik-detik matahari mulai menyengat kulit, masih ada satu booklet lagi yang kubawa. Niatnya, aku ingin membawa booklet itu. Namun, aku sudah mengorupsi satu stiker, jadi kuurungkan niatku untuk mengambil yang bukan hakku. Lagipula, booklet itu (kalau tidak salah) membahas tentang tata cara berkendara yang tertib. Sedangkan aku ini belum bisa berkendara sendiri. Jadi, buat apa? 
Ya sudah, aku lanjut berjalan. Semakin jauh meninggalkan lapangan. Semakin ke belakang, menjauhi lampu merah. Karena kupikir bahwa kendaraan di belakang pasti ada yang belum dapat. 
Kemudian aku bersama salah seorang temanku menuju sebuah mobil. Kami mengetuk jendela sebelah kiri mobil itu.

*tok tok tok* 

Hening...

*tok tok tok* 

Hening... 

*tok tok tok* 

Jendela diturunkan.  
Akhirnya... 
Nampaklah satu-satunya orang yang ada di dalam mobil. Seorang wanita. Seraya tersenyum semanis gula batu bata, aku melongokkan sedikit kepalaku. Tanpa suara, aku menyerahkan booklet yang tersisa. 

"Ng-nggak, dik. Nggak," katanya. 

Aku menoleh ke temanku. Lantas menoleh ke wanita itu lagi sambil menyerahkan kembali satu booklet yang tersisa. 

"Ini, Mbak...," ucapku, baru mengeluarkan suara. 

"Nggak," balasnya lagi. Dia menatapku bingung. Aku menoleh ke temanku sambil menampakkan wajah bingung juga. Lah, temanku juga kebingungan. 

Sekali lagi, aku mengulangnya. "Ini, Mbak..., silahkan diambil." 

Si Mbak Wanita lagi-lagi menggeleng. Dan seperti teringat sesuatu aku langsung refleks berkata, "Ambil, Mbak. Gratis kok. Nggak bayar." 

Seolah enam kataku tadi adalah rayuan ajaib, Si Mbak Wanita langsung mengulurkan tangannya menerima booklet terakhir yang membuatku berjemur lebih lama di pinggir jalan. Setelah mobil Si Mbak Wanita melaju pergi, aku bersama temanku tertawa kecil sambil manggut-manggut menggeleng pelan. 
Ya ampun, cantik-cantik takut banget keluar duit... Lagian mana ada pembagian selebaran di jalan disuruh bayar. Ampun deh, Mbak. 
 Setelah berjalan sedikit jauh, karena tanpa disadari kami sudah berjalan agak jauh meninggalkan lampu merah dekat lapangan, kami akhirnya tiba di lapangan. Bertemu teman-teman lantas berpelukan
 Hari itu berakhir sedikit menyedihkan. Setelah panas-panasan upacara, bagi-bagiin souvenir di pinggir jalan, dan menghadapi Si Mbak Wanita yang nggak mau menerima booklet akibat takut disuruh bayar.... ternyata aku, eh, kami nggak mendapatkan makan siang. Padahal perut ini sudah bernyanyi ria. Akhirnya kami beli lumpia, yang rasanya nggak seberapa. Hahaha... Namun, meskipun begitu, aku tetap senang hari itu. Aku akhirnya tahu, terjun ke lapangan itu nggak seseru dan semudah yang kukira.

But overall, hari itu benar-benar unforgettable dan sampai sekarang aku masih menanti kegiatan-kegiatan sosial lainnya yang bisa membuat pengalamanku bertambah. Doakan, semoga aku bisa terjun payung ke lapangan untuk melakukan kegiatan sosial lagi, ya! 

**

diikutsertakan dalam #KuisWekEn oleh @Warung_Blogger dan @bookaholicfund


Senin, 22 Desember 2014

[CERPEN] Ingin Seperti Bunda



 Ingin Seperti Bunda

            Diem!” teriakku menghentikan pertanyaan teman-teman yang saling bersahutan. Teriakkanku sedikit menggema di koridor sekolah yang mulai menyepi. “Nanti aku tanyakan sama Bunda. S-sekarang aku pulang dulu.”
            Aku mempercepat langkahku menuju parkiran. Dengan cepat mataku menemukan Pak Odi yang sedang bersandar di pintu mobil. Ia menghampiriku, lantas mengambil alih tas yang kugendong.
            Tanpa suara, aku masuk ke dalam mobil. Duduk sembari memejamkan mata di jok belakang. Sesekali aku mengusap peluh di keningku.
            “Pak.”
            “Em, iya, non?” Pak Odi melirikku melalui spion.
            “Bunda ada di rumah?” Semuanya harus kutanyakan secepatnya pada Bunda. Kalau bisa, siang ini akan kutanyakan. Aku bosan dengan pertanyaan teman-teman mengenai Bunda yang tidak pernah seperti orang tua lain. Tidak pernah ke sekolahku, tidak pernah hadir dalam rapat orang tua, selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan yang paling aku sebalkan... semua ini membuat teman-teman berpikir kalau aku tidak punya siapa-siapa! Apalagi keberadaan Ayah yang... ah, entah dimana dia.
            Pokoknya aku harus segera menanyakan pada Bunda. Aku tidak mau menyimpan tanda tanya lebih lama lagi. Lagipula, aku memang berhak tahu.
            “Belum pulang, non,” jawab Pak Odi memupuskan harapan siangku.
**
            Bundaku seorang entertainer yang baru mengepakkan sayapnya. Dalam sehari, ia dapat tampil hingga tiga kali di layar kaca. Keseringan Bunda tampil sebagai seorang host atau beberapa kali menjadi bintang Film Televisi. Sebelum menjadi seperti sekarang, Bunda dulunya pekerja serabutan yang lebih sering menghabiskan waktu di tempat-tempat kerjanya dibanding di rumah bersamaku.  
            Setelah hampir enam jam aku menunggu kepulangan Bunda, deru mobil yang memasuki pekarangan rumah membuat kakiku refleks berlari menuju pintu utama. Seorang wanita berambut ikal sepunggung keluar dari mobil.
            “Reva mau nanya sesuatu, Bun,” kataku tanpa basa basi. Aku mengekori Bunda yang berjalan menuju kamarnya. “Sekarang kan Reva udah kelas empat, Bun..., jadi, Reva udah boleh tahu kan tentang―”
            “Re, Bunda baru pulang,” ucapnya sambil melepas heels. “Bunda mau istirahat dulu. Besok kan hari minggu, kita ngobrol besok aja, ya.”
            “Tapi―”
            “Bunda capek, mau istirahat.” Ia menggiringku keluar kamarnya. Lantas menutup pintu tanpa peduli aku yang masih berdiri tanpa mau beranjak.
**
            Suara dentingan sendok dengan cangkir kudengar dari arah dapur. Sambil menguap pelan, aku berjalan menuju dapur. Masih dengan pakaian santainya Bunda nampak sedang membuat secangkir teh. Secangkir saja. Kalau aku ingin, pasti Bunda akan menyuruhku untuk membuat sendiri.
            Biar mandiri, katanya selalu.
            “Bun, pertanyaan Reva yang kemarin... gimana?” tanyaku sembari mengambil sekaleng coke dari kulkas, tapi tangan Bunda menahan tanganku. “Kenapa?”
            “Masih pagi jangan minum soda.”
            Aku melengos. Menuruti saja perintahnya. Aku beralih menuju rak gelas, mengambil satu, lantas mengisinya dengan air putih.
            “Pertanyaan apa, ya?” Bunda balik bertanya. Ia memandangku yang sedang menegak habis air dalam gelasku.
            Aku menggenggam erat gelas yang masih kupegang. Kutatap sebentar Bunda, berharap dia ‘kan menjawabnya kali ini. “A-ayah...”
            Bunda berdeham. “Jam sembilan Bunda ada kerjaan,” katanya seraya meninggalkan dapur. Namun, tangan kecilku lebih cepat dari langkah Bunda. Kutahan ia sebentar. Bunda menoleh padaku yang menampilkan wajah memelas.
            “Jangan kerja,” kataku polos. “Reva mau ngobrol sama Bunda.”
            “Kita bisa ngobrol lain kali.”
            “Bunda selalu bilang gitu. Kapan? Lain kalinya itu kapan? Bunda nggak pernah ada waktu buat Reva,” ujarku lantas menjatuhkan bokong di atas sofa ruang tengah. Bunda menyusulku.
            “Apa yang mau kamu obrolin, hm?” Tatapannya menghunjamku.
            “Banyak. Banyak hal yang Reva nggak tahu dari Bunda Reva sendiri,” jawabku membalas tatapannya. “Bunda nggak pernah seperti orang tua Reva yang lain... Reva capek ditanya sama teman-teman di sekolah. Apalagi....,” aku terdiam sejenak. “Ayah yang Reva nggak tahu siapa. Nama Ayah yang kosong di rapor maupun data Reva yang lainnya. Reva capek ditanya sama teman-teman, Bun.”
            “Didiamkan saja teman-teman kayak gitu, Re―”
            “Nggak bisa, Bunda!” Suaraku meninggi. “Bunda kira itu semua mudah? Reva―Re-reva malu, Bun,” suaraku merendah di akhir kalimat.
            Bunda tertegun. Cukup lama. Wajahnya antara kaget dan... sungguh tak terbaca. Sampai akhirnya dia memandangku dengan senyuman yang entah kapan terakhir aku melihatnya. Senyuman yang lantas berubah sinis dan terlihat sedih.
            Sedih? 
            “Kamu capek dengan pertanyaan-pertanyaan mereka? Kamu capek dengan Bunda yang nggak pernah memperlakukan kamu seperti orang tua lain, hm?”
            Aku mengangguk.
            “Kamu malu dengan keadaan kita yang tidak seperti keluarga lain? Kamu malu memiliki satu orang tua saja?”
            Aku menggeleng cepat. “Bukan gitu maksud Reva, Bun...”
            “Bunda ngerti,” ia tersenyum lembut. “Mana lebih capek...,” matanya nampak menerawang. “Selama bertahun-tahun hidup dengan pertanyaan yang sama dari orang sekitar, pertanyaan yang hanya bikin sakit hati, pertanyaan yang menggoyahkan keyakinanmu untuk tetap menjaga orang yang kamu sayang... Dan mana lebih malu...,” satu kedipan menghancurkan pertahanan Bunda. Air mata membanjiri pipinya. “Memiliki anak di luar ikatan pernikahan?”
            Aku membatu. Berusaha mencerna yang Bunda ucapkan. Otakku mendadak tak berfungsi. Aku tiba-tiba bodoh.
            “B-bun...”
            “Astaga, apa yang sudah kukatakan!” Bunda menggeram pelan sembari mengusap air matanya kasar. “Re, Bunda nggak bermaksud―”
            Aku berhambur ke pelukan Bunda, menangis tersedu-sedu. “Bunda, maafin Reva... Reva nggak tahu seberapa besar pengorbanan Bunda buat Reva... Reva minta maaf, Bun. Maaf Reva belum membalas semua yang sudah Bunda korbankan untuk Reva. Ke-kenapa Bunda nggak cerita dari dulu? Kenapa Bunda nggak bilang kalau Reva ini anak―”
            “Ssst! Udahlah, Re,” Bunda mengeratkan pelukannya. Dagunya ia letakkan di puncak kepalaku. “Kamu nggak perlu tahu semua ini. Yang perlu kamu tahu hanya kenyataan bahwa Bunda sayang banget sama kamu. Bunda jarang di rumah karena Bunda mau biayain kamu semampu Bunda... Bunda ingin kamu bahagia... Bunda mau kamu sukses... Bunda ingin membuktikan pada mereka, kalau kamu, Re, bisa sehebat anak-anak lain.”
            “Bundaaa...,” air mataku sungguh tidak bisa kutahan. “Reva juga sayang banget sama Bunda. Reva nggak tahu gimana balas semua ini... Pertanyaan-pertanyaan teman Reva nggak sebanding kan dengan pertanyaan orang-orang di sekitar Bunda dulu? Semalu-malunya Reva nggak punya Ayah, pasti lebih malu Bunda dulu waktu mengandung Reva, kan? Bunda nggak menyesal kan punya anak kayak Reva?”
            “Nggak, Sayang...,” ujar Bunda dengan suara serak menahan air matanya yang kesekian. “Bunda nggak pernah dan nggak akan pernah menyesal punya anak kayak Reva.”
            “Reva janji akan membalas semua pengorbanan Bunda―”
            “Re... Udahlah, nggak usah dibahas.”
            “Kenapa Bunda?” tanyaku tak mengerti.
            “Pengorbanan bukan lagi pengorbanan jika ia diucapkan. Pengorbanan itu keikhlasan. Bunda melakukan semua ini untuk kamu. Bunda ikhlas. Nggak usah dibahas, Sayang...”
            Bagaimana mungkin aku tidak bahagia... Memiliki seorang ibu seperti Bunda. Yang tak ingin pengorbanan besarnya kusebut pengorbanan. Yang ikhlas melakukan segalanya untukku. Aku yakin setiap anak pasti beruntung memiliki ibunya. Tapi aku lebih yakin kalau aku yang paling beruntung, memiliki Bunda yang mengagumkan. Tidak hanya fisiknya, pun hatinya. Tidak hanya di layar kaca, juga di dunia nyata.
            “Reva janji nggak akan peduliin ucapan teman-teman lagi... Reva mau hebat..., seperti Bunda.”
 **
diikutsertakan pada #GASHariIbu oleh