Tampilkan postingan dengan label serius dikit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serius dikit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Desember 2014

Tentang Aku, Si Pengagum Rahasia #2

Setengah dari jatahku untuk berada di tempat ini telah kupakai. Kini tersisa setengah lagi. Apa yang lantas bisa kulakukan di detik-detik penghabisan ini? Mimpi tetaplah mimpi. Asaku 'tuk bisa terus bersamamu hanyalah sebuah ilusi yang tak tergapai. Rasa yang kian tumbuh, pun makin tidak tersentuh. Aku mungkin terlalu berharap. Terlalu sering memenuhi hari-hari dengan khayalan yang malah membuatku pengap. Oh Tuhan, sungguh aku jengah... Tapi mengapa tak sedikitpun aku merasa lelah dan ingin menyerah? Bagaimana bisa hatiku ini tetap optimis atas semua keimajinatifan yang ada? 

Baru kutahu menjadi seorang pecinta diam-diam itu tidaklah mudah. Yang kaubutuhkan tak sekadar kesabaran dalam ucap, namun juga keikhlasan bila tidak dianggap. Aku sendiri sudah terbiasa akan sebuah pengabaian. Bukan hal asing untukku ketika perasaan ini tak mendapat balasan. 

Andai kubisa mengembalikan, atau setidaknya memperlambat jalannya waktu. Supaya lebih lama kudapat bersamamu. Meski aku hanya mampu menguntit balik pintu, tapi itu sudah cukup untukku. Menatapmu dari jauh telah menjadi hobiku selain menulis tulisan tak bermutu.

Angan...
Harapan...
Khayalan...
Mimpi...
Ilusi...
Imajinasi...

Ah, ya... Cukup banyak kata yang dapat menggambarkan rasaku untukmu. Rasa yang tidak satupun orang tahu, yang mengusikku sampai nyaris gila. Rasa yang tak satupun dapat orang lain mengerti. Rasa yang tidak mampu dicerna oleh akal sehat manusia. Rasa yang tak pernah terungkap, tapi nyata adanya. 

Sebuah rasa yang timbul akibat kekaguman yang berlebihan. Sebuah rasa yang muncul sejak aku sadar bahwa waktu kita bersama sudah tidak lama lagi. Rasa sayang berlebihan yang membuatku menjadi remaja tolol dengan segala khayalan dan imajinasi yang overdose

Aku tidak tahu sampai kapan aku mampu bertahan dalam kondisi ini. Jalan yang harus kulalui masih panjang. Tidak mungkin aku berhenti hanya karena perasaan ini. Aku hanya berharap dan terus berharap, Tuhan memberiku kekuatan lebih. Tuhan terus menuntunku. Tuhan menemaniku disetiap langkahku yang goyah. 

Menjadi pengagum rahasia tidak semudah yang orang-orang bayangkan. Tidak sesederhana yang mereka pikirkan. Pengagum rahasia menahan segala rasa yang ada sendirian. Sendirian. Tanpa orang lain, tanpa pendamping. Ia merasakan senang, sedih, sakit, perih, dan kecewa sendirian. Semua ia lalui sendirian. Bukan karena tidak ingin berbagi, tapi karena ia tahu bahwa takkan ada satupun orang yang mengerti. Perasaan seorang pengagum rahasia memang rumit. Akan sulit untuk dipahami oleh mereka yang dengan mudahnya mendapat cinta dari orang-orang yang mereka sayangi. 

Biarkan aku mengagumi... Biarkan aku sendiri... Aku tidak butuh balasan, apalagi teman berbagi. Aku hanya ingin segala harapan tak lagi menjadi ilusi. Aku hanya mau tak lagi diabaikan oleh orang yang kukagumi.

-C-

Sabtu, 11 Oktober 2014

Memori Sebelas Oktober

Sebelas Sepuluh Sebelas. Ingatkah kamu? Mungkin tidak sama sekali. Itu sudah lama. Tiga tahun yang lalu. Saat dimana semua masih baik-baik saja. Saat kamu masih berperawakan anak laki-laki cupu tanpa ada satupun yang melirik; kecuali seorang gadis bintang sekolah yang selalu sibuk dengan lomba-lomba juga prestasinya. Saat itu, tidak pernah terbesit dalam benakku semua akan menjadi seperti sekarang ini. Dulu, yang kutahu hanya ada aku dan kamu. Tidak memikirkan hal lain yang mungkin muncul di antara rasa kita itu. Cinta monyet orang-orang menyebutnya. Tapi untukku, cinta pertama adalah nama yang lebih tepat. 

Waktu bergulir seperti kelereng yang menggelinding di lantai licin begitu saja. Kejadian demi kejadian terjadi tanpa sempat dicegah. Keputusan karena sebuah ketakutan kuambil tanpa kupikir akibatnya. Perpisahan seolah jalan satu-satunya. Padahal, aku tahu, kamu pun saat itu tahu, kita masih sama-sama terbelenggu dalam rasa yang satu. Namun, entah bagaimana, aku kukuh pada keputusanku untuk meninggalkanmu. Dan kamu, menerima keputusan itu tanpa sebuah argumen apapun. Kita sama-sama sakit, pun bersama berusaha bangkit. Berharap semuanya adalah pilihan terbaik. Ternyata, apa? Semua tidak semudah yang kubayangkan saat itu.

Seperti domino raksasa yang disusun melingkar dalam posisi berdiri, aku berada di belakang domino pertama; di depan domino terakhir. Keputusan yang kuambil bagai mendorong domino pertama yang ada di depanku. Tanpa pikir panjang, kudorong begitu saja. 

Lalu, lihatlah...

Domino itu berakhir pada domino terakhir yang malah jatuh menimpaku. Sakit. Untuk yang kedua kalinya. Karma. Satu kata paling tepat. Aku yang mengambil keputusan atas perpisahan kita, aku pula yang merasakan sakit itu. 

Ini sudah tahun ketiga. Tahun ketiga setelah hari paling membahagiakan pertama kali dalam hidupku dulu. Setelah hari ini pada tiga tahun yang lalu, hari-hariku sungguh tak terdefinisi. Rasanya ingin cepat-cepat menjadi dewasa. Agar aku bisa hidup bersamamu saat itu juga. Menghabiskan waktu kita bersama. Berdua. Penuh canda, juga tawa. Ditambah lagi, keinginan kita untuk mencapai cita-cita bersama. 

Ini sudah tahun ketiga. Biarkan aku membongkar sebentar ingatanku... 

Kamu masih ingat ketika tak ada satupun yang mampu membuka tutup bolpoin milikku, lalu hanya kamulah yang bisa? Kamu masih ingat bagaimana kaki kita diikat lalu tanganku dan tanganmu saling menggandeng dalam lomba lari pengantin (saat itu aku berharap lombanya lebih lama lagi) yang pada akhirnya kita keluar sebagai pemenang pertama? Kamu masih ingat bagaimana 30 menit kita dalam telepon saat kaumenemaniku yang sendiri di rumah? Kamu masih ingat bagaimana bahagianya aku dan kamu saat kelompok kita sama-sama menang dalam lomba masak di sekolah? Kamu masih ingat bagaimana aku memutus-sambungkan telepon kita agar aku tak ketahuan ibuku sedang berteleponan denganmu? Kamu masih ingat ketika kebakaran di sekolah kita yang membuat aku dan kamu sama-sama sulit berhubungan via telepon? Kamu masih ingat bagaimana saat kau merobek surat milik seorang kakak kelas laki-laki yang diberikan padaku? Kamu masih ingat bagaimana saat kita sama-sama nyaris tersesat pada dini hari di daerah yang tidak kita kenali? Kamu masih ingat saat kamu bertanya via pesan singkat padaku mengapa aku menangis diam-diam di kelas (dan saat itu aku benar-benar terkejut karena kamu mengetahuinya) yang bahkan teman sebangkuku pun tak sadar? Kamu masih ingat bagaimana teman-teman mengerjai kita berdua habis-habisan? Oh ya..., kamu masih ingat tidak bagaimana ketika aku mengakhiri semua ini dan memilih pergi dan sama sekali tak kaucegah kepergianku, yang sejak saat itu semua berubah tak lagi seperti dulu..., apa kamu ingat? Tak apa jika kamu tidak ingat. Ini tidak penting untuk kauingat. Biarkan aku sendiri yang mengingat. 

Ini sudah tahun ketiga. Aku sungguh tak menyangka bahwa sampai saat ini ingatanku masih begitu kuat mengingat detail-detail kenangan kita. Aku tidak bisa berbohong. Rasa sayang ini masih tetap ada. Meski tak seperti dulu, namun rasaku untukmu seperti telah membuat sarang sendiri dalam hati ini. Walau ada rasa lain yang mulai tumbuh, tetapi rasa yang kumiliki untukmu seolah ingin tetap berada didalam. Abadi bersama mimpi-mimpi kita yang sudah tak berarti. 

Ini sudah tahun ketiga. Setiap jalan Tuhan adalah jalan terbaik untuk kita. Aku, pun kamu, tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Aku tidak berharap banyak untuk masa depanku supaya bertemu denganmu lagi. Aku bahagia apabila kamu memang sudah mendapatkan pilihan terbaikmu di sana. Hanya saja, tolong biarkan aku mengenang semua. Jangan pernah larang aku untuk merindukanmu juga memori kita tiga tahun lalu. 

Ini sudah tahun ketiga. Aku kapok berusaha melupakanmu; yang berujung aku semakin rindu pada semua tentangmu. Tiga tahun ini, aku belajar, bahwa terkadang untuk mencintai seseorang yang kita butuhkan hanya satu; keikhlasan.



Kamu masih ingat detik-detik dimana yang hanya kau dan aku yang tahu; saat sepasang mata kita bertemu?
Kamu harus ingat, cinta pertama 'kan abadi selamanya. 


11 Oktober 2014

-C-

Sabtu, 13 September 2014

Tentang Aku, Si Pengagum Rahasia

Untuk kamu yang beberapa kali menyadari kalau aku menatapmu dari luar pintu...

Aku tidak pernah tahu kapan semuanya bermula. Semua terjadi seperti air yang mengalir. Tanpa pernah terpikir, tiba-tiba saja aku sudah tersihir. Entah ini sudah kali keberapa aku menulis tentangmu. Menulis hal yang sama dengan perasaan yang masih sama pula. Sungguh, aku benar-benar sadar bahwa sampai detik kesejuta dalam hidupmu pun, kautidak akan pernah tahu siapa aku.

Seperti pengagum rahasia lainnya, yang biasa kulakukan hanya memandangmu dari jauh. Mengabadikan setiap hal yang kaulakukan melalui lensa mataku. Tak ada yang tahu. Takkan ada yang pernah tahu. Hanya aku sendiri. Juga hati ini. Iri dan dengki menjadi hal lumrah untukku. Ketika melihatmu memprioritaskan orang lain dibanding diriku. Apa yang bisa kulakukan? 

Tidak ada. 

Tidak ada yang bisa kulakukan selain tersenyum getir menerima takdir. Aku terlalu lelah untuk berharap. Setelah sekian kekuatan kukerahkan, tapi kamu tak kunjung kudapatkan. Terkadang aku bertanya, dosa apa yang kulakukan di masa lalu sehingga membuatku sial melulu. Aku bagai pengagum rahasia yang penuh dosa. Yang tidak pernah bisa bertegur sapa dengan orang yang kupuja. Kata orang, semua indah pada waktunya. Tuhan tahu yang terbaik untuk umatnya. Aku menunggu. Menunggu Tuhan memberiku waktu indah itu. Tapi, kapan? Apa ada banyak sekali kejutan sehingga aku harus menunggu lebih lama dibanding orang lain di luar sana yang sedang tertawa bersahutan? 

Dalam hal ini, aku memang tidak bisa berharap banyak. Kita sama dan beda dalam satu waktu. Persamaan yang membuat kita tak mungkin bersatu. Juga perbedaan yang hanya bisa membuatku mengkhayalkanmu. Jika benar Tuhan tak perlu menjadi hetero untuk mencintai umatnya, bisakah aku menyayangimu tanpa harus menjadi homo? 

Tolong artikan kalimatku dengan baik. Aku masih seorang gadis dengan pikiran yang tak terbalik. Jangan kira aku sudah tidak waras akibat rasa yang tak pernah terbalas. 

Kali ini, rasanya aku ingin memarahi takdir dan waktu yang tidak segan menghukumku. Hei, aku juga manusia! Ada batasnya jika kauberikan aku hukuman. Ini semua berlebihan dan tidak tepat waktunya. Aku dibuat menyayangi orang sepertimu ketika kita berada di ambang pintu perpisahan. Aku dibuat berkhayal menjadi bagian dari hidup seseorang yaitu kamu―yang bahkan tidak tahu persis siapa diriku ini. 

Hentikan rintanganmu, Tuan Takdir! Dan berhenti menyiksaku, wahai Sang Waktu!

Sejak awal aku sudah sadar, amat sadar, kalau semua yang kulakukan―menatapmu dari jauh, diam-diam tersenyum untukmu, menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengkhayalkanmu, menulis segala tentang dirimu, juga berusaha menjadi seseorang yang kautahu―akan berakhir sia-sia. Kamu dengan hidupmu, aku dengan hidupku. Kita tentu sungguh jauh.

Sebentar lagi aku harus pergi. Untuk melanjutkan hidupku sendiri, juga mengejar mimpi. Aku selalu berdoa pada Tuhan, agar semua ini bisa abadi. Supaya selamanya kamu menjadi cermin terbaik yang pernah kulihat. Supaya pada setiap malam pekat, aku tetap bisa mengingat segala tentangmu. Supaya suatu hari nanti, kita bisa bersama, meski dalam situasi yang berbeda.

Aku 'kan tetap menjadi pengagum yang paling menyayangimu, meski kutahu hari itu pasti akan tiba. Hari dimana kamu melangkah jauh, meninggalkan tempat biasa aku melihatmu, lalu untuk selamanya kita berpisah. Hari dimana aku harus pergi, bersama dengan mimpi-mimpi yang kurajut sendiri. Hari dimana kita harus mengikuti alur yang Tuhan rangkai, yang takkan bisa kita abai.

Semoga di lain waktu, di lain kehidupan, aku bisa menjadi bagian darimu yang tidak akan kulupakan. :) 2402xx.

dari penggemarmu yang sebentar lagi harus pergi...

-C- 

Selasa, 19 Agustus 2014

Si Penabur Ucapan Sayang

Sama sekali tidak terbayang kalau semua akan menjadi seperti ini. Candaan bodoh yang tidak seharusnya membuatku terperangkap dalam sarangmu. Semua terasa seperti sudah bertahun lamanya, padahal baru kemarin. Kamu datang, aku menerima dengan terbuka. 

Teman. 

Jabatan pertama antara kita. 

Mungkin memang salahku, berharap lebih atas jebakan-jebakan luar biasamu itu. Mungkin aku yang terlalu percaya diri, atau mungkin memang pesonamu yang memabukkan. Aku tidak ingin menyalahkan orang lain termasuk kamu dalam hal ini... karena kutahu, sepenuhnya ini adalah ketololanku. Aku sengaja masuk kedalam perangkapmu yang dihindari banyak orang. Aku membiarkan hatiku membuka untuk kamu yang bahkan tak seorangpun sahabatku menganggapmu orang baik. 

Tapi, di sini bukan tentang baik atau jahat. Bukan tentang protagonis atau antagonis. Namun, tentang hati     juga tentang bodohnya aku yang dengan mudah terjebak. 
Sekali lagi, aku tidak ingin menyalahkan siapapun atau apapun di sini. Bukan salah keadaan, bukan salah takdir Tuhan. Semua ini sudah jalanku. Jalan yang harus kujalani agar aku bisa sampai ke jalan selanjutnya. Agar aku bisa mencapai tingkat selanjutnya. Tingkat yang lebih tinggi. 

Bukan cinta. Ini bukan cinta. Bukan. Belum. Saat ini mungkin hanya sebatas suka dengan sedikit sayang, namun apabila dibiarkan tumbuh, tidak menutup kemungkinan semua itu berubah. Jika ucapan lembutmu itu terus menyertai hariku, cepat atau lambat, rasa ini tidak 'kan bisa aku tahan lagi.

Aku tidak ingin berharap banyak atas semua ini. Aku sadar, kamu seperti para perawat bunga, ucapan sayang dari bibirmu adalah pupuk, dan aku adalah satu di antara sekian bunga yang kaurawat. Kamu menabur pupuk itu sesuka hatimu, menabur rata pada semua tumbuhan bungamu. Namun, yang 'kan menjadi yang paling kausayang, pastilah bunga yang berwarna-warni, paling cantik, memikat, dan bisa kaubanggakan di hadapan banyak temanmu. Kamu tidak mungkin mencari bunga putih polos tanpa warna lain. Jatuh sudah reputasimu apabila memilih bunga tanpa mahkota seperti aku ini. Mustahil jika aku mengalahkan bunga-bunga luar biasamu itu. 

Semua ini baru dimulai. Mungkin akan lama, atau sebaliknya berakhir dalam sekejap. Aku siap. Aku siap akan konsekuensi yang harus kuterima nantinya. Sakit hati, dikhianati, tak digubris, atau     seperti yang pernah kaukatakan      dijadikan yang nomor dua. 

Bibir manismu mengucap sayang dengan mudah. Membuatku terbang seperti malaikat tak bersayap. Bersamaku, kamu menjadikanku seolah yang nomor satu. Tapi di belakangku, kamu seperti amnesia dalam hitungan detik. Seakan yang kaukatakan beberapa waktu sebelumnya, saat bersamaku, itu hanya lelucon belaka. 

Kalau boleh jujur, aku ingin menyerah. Tapi maaf, aku tidak lemah. Meski lelah, namun kuakan terus berjuang sampai kamu sadar. Sampai waktunya tiba, kalau aku lebih baik pergi. 

Kamu, Si Penabur Ucapan Sayang, mungkin aku bukanlah bunga indah dengan sejuta kesempurnaan. Tapi, aku bisa tumbuh tanpa perlu pot mahal. Cukup dengan sedikit siraman perhatianmu, juga setabur ucapan sayang yang tulus dari bibirmu itu. 

Aku berbeda dari bunga-bunga indahmu yang dengan seenak jidatmu bisa kaupamerkan di hadapan teman-temanmu. Aku bunga pemalu yang sederhana, namun pasti sulit untuk kaucari. 

Percaya padaku. 

-C-


Minggu, 17 Agustus 2014

Yang Terlupa

 Sejak kecil, aku berpijak di tanahnya, meminum airnya, menghirup udaranya. 
Sampai saat ini, semua masih sama.
Aku mencintai Indonesiaku sepenuhnya.
Tidak sedikitpun rasa benci itu ada. Hanya sedikit rasa kecewa pada orang-orang dewasa di luar sana. Yang seperti buta, tak ingat saudara.
Mereka menikmati, tanpa diminta mengganti. Tak bisakah sedikit berbagi?
Mereka berfoya-foya, yang lainnya meregang nyawa.
Kemiskinan, kelaparan, kurangnya pendidikan..., semestinya semua bisa terselesaikan.
Aku hanya anak kecil yang tak tahu apa. 
Namun, aku punya hati. Kasihan Ibu pertiwi. Anak-anaknya mulai tidak peduli dengan saudara sendiri.
Saat besar nanti, aku tak ingin menjadi pemimpin negeri ini. Susah dan serba salah.
Saat besar nanti, tidak mungkin aku bisa membuat negeriku kembali. Terlalu lelah dan payah.
Tapi, aku bisa, menjadi orang yang tidak pelit, meski hidupku nanti sulit. 
 Indonesiaku pasti bangkit lagi, seperti sediakala, ketika tak ada yang terlupa.

-C-

Sabtu, 24 Mei 2014

Aku, Waktu, dan Rindu

25 Mei 2014
11:24 AM


Tidak banyak. Tidak banyak yang tersisa kini. Semua sudah hampir berakhir. Sedikit lagi, selangkah lagi menuju pintu terakhir.
Tidak akan lagi ada tawa kita bersama. Tidak akan lagi ada percakapan melalui tatapan mata.
     
Semua terasa belum cukup. Tapi apa daya, jarum jam terus bergerak ke kanan.
Kini yang tersisa hanya aku, waktu, dan rindu yang saling mendekap.

Mengenang apa-apa yang pernah terjadi. Mengingat apa-apa yang tak akan mungkin kulupa.Sedikit kusesali, mengapa rasa itu ada di saat-saat terakhir kebersamaan kita?
Sedikit kutak mengerti dengan rencana-Nya, mengapa aku mengagumimu ketika aku sudah tidak bisa melihatmu sedekat bintang dan langit?

Aku bintang. Kamu langit. Langit memiliki banyak bintang yang mungkin tidak bisa ia ingat satu persatu. Aku, salah satu bintang dengan sinar temaram, berharap agar langit mengingatku? Sungguh, mimpi semu yang selalu memenuhi seisi kalbuku.

Terkadang, lelah akan berharap itu ada. Tapi aku tahu, Tuhan akan selalu membimbingku. Melewati semua. Hingga kutemukan jalan dimana aku bisa menemuimu lagi.

Semua tergantung padaku, mau berusaha lebih atau tidak. Semua tergantung pada waktu, akan membawa kita kembali bersama atau sebaliknya menjadikan pertemuan ini sebagai yang terakhir. Semua tergantung pada rindu, akan selalu ada atau sirna termakan keadaan.

Semua tergantung pada Tuhan, akan siap menjaga kami; aku, waktu, dan rindu, atau melepaskan begitu saja.

-C-

Rabu, 21 Mei 2014

Jangan Lupa Kulit-mu, Kacang-ku

22 Mei 2014
12:17 PM

Untuk kamu, Cinta Pertamaku.

Hampir dua tahun sudah berlalu sejak perpisahan itu. Kini tidak ada lagi rasaku untukmu, pun sebaliknya, tak ada lagi rasamu untukku. Namun, semua itu tidak berarti kita saling melupakan, kan?
Kita pernah bersama dulu. Kita pernah saling memiliki dulu.
Sekarang kamu sudah berubah menjadi seorang lelaki yang dikejar banyak gadis. Gadis-gadis terbaik yang melebihi segala kekuranganku. Ya, aku tahu. Dan aku sudah ikhlas tentang itu. Jarak membentang membuatku belajar untuk melepasmu sepenuhnya. Hatiku perlahan menerima bahwa sudah sepantasnya kita berjalan pada jalur masing-masing.
Tadi, salah seorang temanku mengatakan sempat melihatmu. Melihatmu yang sekarang. Yang sungguh digilai banyak gadis seusiaku. Kamu benar-benar berubah, fisikmu sangat menawan. Menarik perhatian banyak orang diluar sana.
Aku senang. Amat senang.
Sebagai yang pertama pernah ada di hatimu, yang pertama pernah memilikimu, aku bahagia.
Tapi, hatiku sempat teriris ketika menyadari kamu yang tak mengacuhkanku lagi. Seperti kacang lupa kulit.
Ingatkah kamu, siapa yang selalu ada untukmu saat semua orang memandangmu sebelah mata? Siapa yang selalu bersamamu saat tak satupun ada? Siapa yang menganggapmu luar biasa ketika orang lain mencibirmu? Siapa yang membantumu agar tinggi ketika orang lain memandangmu rendah? Siapa? :)
Aku hanya meminta untuk diingat olehmu. Aku hanya ingin kamu tidak melupakan apa-apa yang pernah ada diantara kita.
Selebihnya, terserahmu. Jalani harimu yang baru. Dengan segala kelebihan yang kaumiliki sekarang.
Jangan melupakan kulit-mu, Kacang-ku. Aku tahu, kamu baik.

-C-

Sabtu, 17 Mei 2014

'Mereka' dan Hidupku

17/5/2014
9:33 PM.

Aku tidak tahu kenapa ingin sekali menuliskan ini di blogku. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak memberitahu siapapun tentang ini. Tapi, bukanlah hal mudah untuk seorang remaja berusia empat belas tahun menyimpan mimpi gilanya seorang diri. Jadi, kuputuskan untuk menulis disini. Kuharap, tidak ada orang yang kukenal membacanya. 
Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan ini. Mimpi atau khayalan? Atau imajinasi? Atau keinginan? Atau kegilaan? Aku juga tidak tahu. Yang pasti, ini tentang seseorang yang kusukai dan sangat ingin kumiliki. Bukan suka dalam artian naksir, namun suka dalam arti lain. 
Kurasa Tuhan memang benar-benar mencintaiku. Sejak hari itu, banyak hal terjadi dalam hidupku. Yang tak kuduga, yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya akan terjadi. Mungkin teman-temanku pun tidak menyadari apa itu. Tapi aku, menyadarinya. Sangat. 
Tuhan benar-benar mengabulkan permintaanku yang kusampaikan lewat doaku sebelum tidur maupun ketika pagi hari. Semua benar-benar terjadi. Nyaris persis seperti yang kuharapkan. Tempatnya, sama. Waktunya pun, sama. Semua benar-benar terjadi. Hanya saja, keadaan yang tak sama. 
Namun, apa yang terjadi hari ini kurasa cukup membuktikan bahwa Tuhan selalu mendengar curhatku tiap malam, bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Semua benar-benar terjadi, hanya itu yang mampu kuucapkan ketika melihatnya datang di hari terakhirku. Dia masih sama seperti sejak awal aku melihatnya. Tidak ada yang berbeda. Menawan, menarik, dan sukses membuatku menyunggingkan ribuan senyum. 
Jika kuingat-ingat, aku tidak tahu apa hal yang pasti yang membuatku gila seperti ini. Ini mimpi tergila sekaligus ternyata yang pernah bersarang dipikiranku. Semua terasa menyiksa sekaligus membahagiakanku. Aku benar-benar gila. 
Andai aku bisa menceritakan ini kepada siapa pun, pasti akan kulakukan. Tapi sayang, aku masih belum siap. Dan semua orang masih normal, jadi kurasa belum ada satu pun makhluk ciptaan Tuhan yang akan siap mendengar ceritaku ini. 
Aku berharap suatu hari nanti bisa bertemu seseorang yang bisa kuceritakan tentang ini, tentang dia dan dia dan hidupku. Terserah berapa umurnya, terserah siapa orangnya, terserah bagaimana latar belakangnya, dan terserah-terserah lainnya. Aku tidak membutuhkan orang yang cantik, tampan, pintar mendengar, baik, ramah, dsb. Yang kubutuhkan adalah orang yang siap mendengar cerita gilaku. Cerita tentangnya, atau tepatnya tentang mereka dan hidupku
Sedikit kuberi bocoran untuk siapa pun yang rela membuang waktunya untuk membaca tulisanku ini: dia memiliki satu kesamaan denganku, dia salah seorang yang berjasa untukku, dan dia adalah seseorang yang mengetahui siapa aku, tapi tak mengenalku. 

-C-

Sabtu, 01 Maret 2014

Tentang Mimpi dan Cinta Pertamaku


“Kenapa kamu disini? Ini kan ruang kelasku.” Kupandang laki-laki di hadapanku ini dengan perasaan campur-aduk. Aku senang, aku bahagia, aku terharu, ingin menangis, ingin memeluk. Tapi aku teringat sesuatu. “Aku harus pulang sekarang,” kataku dengan air mata yang menggenang. Dadaku sesak, hatiku sakit. Rasanya tak rela untuk meninggalkannya.

Dia tersenyum. Senyum manis yang tak terkalahkan oleh siapa pun. Aku terenyah. Kurasakan kehangatan tatapan mata dan senyumnya menjalar keseluruh tubuhku. Aku merasakan apa yang tak bisa kurasakan selama dua tahun terakhir.

“Iya, hati-hati, ya,” jawabnya. Senyum itu terus terukir di wajahnya.

            Aku mengangguk seraya melambaikan tangan. Aku melangkah, menjauh, meninggalkannya. Tapi tiba-tiba hatiku bergejolak ingin kembali. Namun, naas. Kakiku terus melangkah menjauh tak terkendali. Kupandangi dia yang masih tersenyum sembari melambaikan tangan kearahku. Senyumnya. Tatapannya. Aku tak tahan. Aku ingin menghampiri dan memeluknya, meski sesaat. Tanpa daya, aku berusaha melawan walau kutahu itu akan sia-sia. Kakiku terus melangkah. Tubuhnya terlihat semakin mengecil. Jarak kami semakin jauh. Air mataku mulai berjatuhan membasahi pipi. 

            Jauh...                                           

            Semakin jauh...

            Sangat jauh...


“Argghh!” Mataku terbuka cepat. Nafasku terengah-engah. Pipiku basah oleh air mata dan keringat yang bercucuran. “Cuma mimpi, sialan!”

Aku mengerjapkan beberapa kali mataku. Jam dinding menunjukkan pukul 3 dini hari. Jadi, semua itu hanya mimpi? Aku hanya bertemu dengan dia dalam mimpi? Tanpa dikomando, air mataku kembali jatuh. Aku menenggelamkan wajahku di bawah bantal. Semua terasa nyata. Mimpi tadi terus menghantui pikiranku. Wajahmu. Senyummu. Kilauan bola matamu. Semua terasa seperti aku sedang benar-benar memandangmu secara nyata.

Otakku seperti bioskop yang secara tiba-tiba memutar semua film lama tentang kita. Mulai dari kita yang sedang bersama di ruang kelas penuh mainan dan anak-anak lain yang berlarian. Berlanjut ketika kita duduk di hadapan papan tulis putih dengan tulisan ‘Ini budi’. Semua tak bisa berhenti. Film itu terus dan terus berlanjut, hingga nyaris mencapai episode terakhirnya. Saat itu kita sedang duduk, berkumpul bersama dengan semua teman-teman dan beberapa guru. Guru dengan wajah paling tegas berdiri di depan kita, memegang mic dan sebuah kertas. Guru tersebut membenahi letak kaca matanya. Lalu berkata kepada kita semua, “Semua LULUS.” Kudengar semua berteriak. Tertawa. Saling memeluk. Bahkan menangis. Tak terbesit apa pun di benakku saat itu. Tak terpikir bahwa akan ada kabar baik yang menjelma menjadi kabar buruk. Yang aku tahu hanya, kita semua bahagia. Aku bahagia, kamu bahagia, teman-teman bahagia, dan guru-guru bahagia.

Film itu semakin cepat berlanjut. Saat itu aku, kamu, dan teman-teman kita; menanti sebuah pengumuman lain. Dimanakah kita akan melanjutkan perjalanan hidup selanjutnya? Beberapa menit berselang, kulihat namaku terpajang di sebuah kertas milik sebuah sekolah menengah yang berisi kumpulan nama-nama siswa yang diterima di sekolah tersebut. Sungguh, aku senang. Benar-benar senang. Tapi kesenangan itu tak lama. Semua sirna ketika kusadari tiada namamu disana. Tuhan, apa benar-benar aku harus berpisah dengannya? Tidakkah ada jalan lain? Tuhan, kumohon...

Aku tersentak. Tersadar dari lamunanku. Kembali wajahmu itu terbayang dalam otakku. Kamu. Iya, kamu. Cinta pertamaku.

Betapa aku iri dengan mereka yang masih bisa bertemu dengan orang yang selalu hadir dalam mimpi mereka. Tak terbendung jumlah cacian dalam hatiku ketika melihat mereka yang bisa ada dalam harimu. Kenapa mereka? Kenapa bukan aku?

Hatiku sakit. Hatiku menangis. Kenapa harus kita yang berpisah? Semua terasa terlalu cepat berlalu. Delapan tahun saling mengenal terasa percuma ketika kita harus berpisah hanya karena hal kecil ini.

Aku tahu, ini semua salahku. Aku tahu! Aku yang memilih meninggalkanmu. Aku yang mengambil keputusan bahwa kita memang harus berpisah.

Andai bisa kuputar waktu. Inginku bisa bertemu denganmu lagi. Bertemu dalam wujud kita yang sekarang. Kamu yang telah tumbuh menjadi seorang remaja menarik dan tampan. Tapi bukan, bukan karena itu aku ingin kaukembali ke hidupku. Tak ada banyak alasan mengapa aku ingin kita kembali bersama. Hanya karena aku masih menyayangimu. Hanya karena kamu satu-satunya orang yang mampu membuatku terbangun disaat yang lain terlelap. Hanya karena kamu-lah yang bisa membuatku menangis ketika kauhadir dalam mimpiku. Iya, kamu. Cinta pertamaku.

Aku merindukanmu. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kuharap, kita ‘kan bisa bertemu lagi. Nanti. Ketika kedewasaan telah menguasai kita. Ketika kita telah bisa menghapus rasa kecewa masing-masing akibat perpisahan kita dulu.
Kamu, cinta pertamaku, yang selalu hadir dalam mimpi indah maupun burukku. Aku disini, selalu mengingatmu. Selalu menyimpan rasa untukmu.

-C-