Sabtu, 11 Oktober 2014

Memori Sebelas Oktober

Sebelas Sepuluh Sebelas. Ingatkah kamu? Mungkin tidak sama sekali. Itu sudah lama. Tiga tahun yang lalu. Saat dimana semua masih baik-baik saja. Saat kamu masih berperawakan anak laki-laki cupu tanpa ada satupun yang melirik; kecuali seorang gadis bintang sekolah yang selalu sibuk dengan lomba-lomba juga prestasinya. Saat itu, tidak pernah terbesit dalam benakku semua akan menjadi seperti sekarang ini. Dulu, yang kutahu hanya ada aku dan kamu. Tidak memikirkan hal lain yang mungkin muncul di antara rasa kita itu. Cinta monyet orang-orang menyebutnya. Tapi untukku, cinta pertama adalah nama yang lebih tepat. 

Waktu bergulir seperti kelereng yang menggelinding di lantai licin begitu saja. Kejadian demi kejadian terjadi tanpa sempat dicegah. Keputusan karena sebuah ketakutan kuambil tanpa kupikir akibatnya. Perpisahan seolah jalan satu-satunya. Padahal, aku tahu, kamu pun saat itu tahu, kita masih sama-sama terbelenggu dalam rasa yang satu. Namun, entah bagaimana, aku kukuh pada keputusanku untuk meninggalkanmu. Dan kamu, menerima keputusan itu tanpa sebuah argumen apapun. Kita sama-sama sakit, pun bersama berusaha bangkit. Berharap semuanya adalah pilihan terbaik. Ternyata, apa? Semua tidak semudah yang kubayangkan saat itu.

Seperti domino raksasa yang disusun melingkar dalam posisi berdiri, aku berada di belakang domino pertama; di depan domino terakhir. Keputusan yang kuambil bagai mendorong domino pertama yang ada di depanku. Tanpa pikir panjang, kudorong begitu saja. 

Lalu, lihatlah...

Domino itu berakhir pada domino terakhir yang malah jatuh menimpaku. Sakit. Untuk yang kedua kalinya. Karma. Satu kata paling tepat. Aku yang mengambil keputusan atas perpisahan kita, aku pula yang merasakan sakit itu. 

Ini sudah tahun ketiga. Tahun ketiga setelah hari paling membahagiakan pertama kali dalam hidupku dulu. Setelah hari ini pada tiga tahun yang lalu, hari-hariku sungguh tak terdefinisi. Rasanya ingin cepat-cepat menjadi dewasa. Agar aku bisa hidup bersamamu saat itu juga. Menghabiskan waktu kita bersama. Berdua. Penuh canda, juga tawa. Ditambah lagi, keinginan kita untuk mencapai cita-cita bersama. 

Ini sudah tahun ketiga. Biarkan aku membongkar sebentar ingatanku... 

Kamu masih ingat ketika tak ada satupun yang mampu membuka tutup bolpoin milikku, lalu hanya kamulah yang bisa? Kamu masih ingat bagaimana kaki kita diikat lalu tanganku dan tanganmu saling menggandeng dalam lomba lari pengantin (saat itu aku berharap lombanya lebih lama lagi) yang pada akhirnya kita keluar sebagai pemenang pertama? Kamu masih ingat bagaimana 30 menit kita dalam telepon saat kaumenemaniku yang sendiri di rumah? Kamu masih ingat bagaimana bahagianya aku dan kamu saat kelompok kita sama-sama menang dalam lomba masak di sekolah? Kamu masih ingat bagaimana aku memutus-sambungkan telepon kita agar aku tak ketahuan ibuku sedang berteleponan denganmu? Kamu masih ingat ketika kebakaran di sekolah kita yang membuat aku dan kamu sama-sama sulit berhubungan via telepon? Kamu masih ingat bagaimana saat kau merobek surat milik seorang kakak kelas laki-laki yang diberikan padaku? Kamu masih ingat bagaimana saat kita sama-sama nyaris tersesat pada dini hari di daerah yang tidak kita kenali? Kamu masih ingat saat kamu bertanya via pesan singkat padaku mengapa aku menangis diam-diam di kelas (dan saat itu aku benar-benar terkejut karena kamu mengetahuinya) yang bahkan teman sebangkuku pun tak sadar? Kamu masih ingat bagaimana teman-teman mengerjai kita berdua habis-habisan? Oh ya..., kamu masih ingat tidak bagaimana ketika aku mengakhiri semua ini dan memilih pergi dan sama sekali tak kaucegah kepergianku, yang sejak saat itu semua berubah tak lagi seperti dulu..., apa kamu ingat? Tak apa jika kamu tidak ingat. Ini tidak penting untuk kauingat. Biarkan aku sendiri yang mengingat. 

Ini sudah tahun ketiga. Aku sungguh tak menyangka bahwa sampai saat ini ingatanku masih begitu kuat mengingat detail-detail kenangan kita. Aku tidak bisa berbohong. Rasa sayang ini masih tetap ada. Meski tak seperti dulu, namun rasaku untukmu seperti telah membuat sarang sendiri dalam hati ini. Walau ada rasa lain yang mulai tumbuh, tetapi rasa yang kumiliki untukmu seolah ingin tetap berada didalam. Abadi bersama mimpi-mimpi kita yang sudah tak berarti. 

Ini sudah tahun ketiga. Setiap jalan Tuhan adalah jalan terbaik untuk kita. Aku, pun kamu, tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Aku tidak berharap banyak untuk masa depanku supaya bertemu denganmu lagi. Aku bahagia apabila kamu memang sudah mendapatkan pilihan terbaikmu di sana. Hanya saja, tolong biarkan aku mengenang semua. Jangan pernah larang aku untuk merindukanmu juga memori kita tiga tahun lalu. 

Ini sudah tahun ketiga. Aku kapok berusaha melupakanmu; yang berujung aku semakin rindu pada semua tentangmu. Tiga tahun ini, aku belajar, bahwa terkadang untuk mencintai seseorang yang kita butuhkan hanya satu; keikhlasan.



Kamu masih ingat detik-detik dimana yang hanya kau dan aku yang tahu; saat sepasang mata kita bertemu?
Kamu harus ingat, cinta pertama 'kan abadi selamanya. 


11 Oktober 2014

-C-