Sabtu, 01 Maret 2014

Tentang Mimpi dan Cinta Pertamaku


“Kenapa kamu disini? Ini kan ruang kelasku.” Kupandang laki-laki di hadapanku ini dengan perasaan campur-aduk. Aku senang, aku bahagia, aku terharu, ingin menangis, ingin memeluk. Tapi aku teringat sesuatu. “Aku harus pulang sekarang,” kataku dengan air mata yang menggenang. Dadaku sesak, hatiku sakit. Rasanya tak rela untuk meninggalkannya.

Dia tersenyum. Senyum manis yang tak terkalahkan oleh siapa pun. Aku terenyah. Kurasakan kehangatan tatapan mata dan senyumnya menjalar keseluruh tubuhku. Aku merasakan apa yang tak bisa kurasakan selama dua tahun terakhir.

“Iya, hati-hati, ya,” jawabnya. Senyum itu terus terukir di wajahnya.

            Aku mengangguk seraya melambaikan tangan. Aku melangkah, menjauh, meninggalkannya. Tapi tiba-tiba hatiku bergejolak ingin kembali. Namun, naas. Kakiku terus melangkah menjauh tak terkendali. Kupandangi dia yang masih tersenyum sembari melambaikan tangan kearahku. Senyumnya. Tatapannya. Aku tak tahan. Aku ingin menghampiri dan memeluknya, meski sesaat. Tanpa daya, aku berusaha melawan walau kutahu itu akan sia-sia. Kakiku terus melangkah. Tubuhnya terlihat semakin mengecil. Jarak kami semakin jauh. Air mataku mulai berjatuhan membasahi pipi. 

            Jauh...                                           

            Semakin jauh...

            Sangat jauh...


“Argghh!” Mataku terbuka cepat. Nafasku terengah-engah. Pipiku basah oleh air mata dan keringat yang bercucuran. “Cuma mimpi, sialan!”

Aku mengerjapkan beberapa kali mataku. Jam dinding menunjukkan pukul 3 dini hari. Jadi, semua itu hanya mimpi? Aku hanya bertemu dengan dia dalam mimpi? Tanpa dikomando, air mataku kembali jatuh. Aku menenggelamkan wajahku di bawah bantal. Semua terasa nyata. Mimpi tadi terus menghantui pikiranku. Wajahmu. Senyummu. Kilauan bola matamu. Semua terasa seperti aku sedang benar-benar memandangmu secara nyata.

Otakku seperti bioskop yang secara tiba-tiba memutar semua film lama tentang kita. Mulai dari kita yang sedang bersama di ruang kelas penuh mainan dan anak-anak lain yang berlarian. Berlanjut ketika kita duduk di hadapan papan tulis putih dengan tulisan ‘Ini budi’. Semua tak bisa berhenti. Film itu terus dan terus berlanjut, hingga nyaris mencapai episode terakhirnya. Saat itu kita sedang duduk, berkumpul bersama dengan semua teman-teman dan beberapa guru. Guru dengan wajah paling tegas berdiri di depan kita, memegang mic dan sebuah kertas. Guru tersebut membenahi letak kaca matanya. Lalu berkata kepada kita semua, “Semua LULUS.” Kudengar semua berteriak. Tertawa. Saling memeluk. Bahkan menangis. Tak terbesit apa pun di benakku saat itu. Tak terpikir bahwa akan ada kabar baik yang menjelma menjadi kabar buruk. Yang aku tahu hanya, kita semua bahagia. Aku bahagia, kamu bahagia, teman-teman bahagia, dan guru-guru bahagia.

Film itu semakin cepat berlanjut. Saat itu aku, kamu, dan teman-teman kita; menanti sebuah pengumuman lain. Dimanakah kita akan melanjutkan perjalanan hidup selanjutnya? Beberapa menit berselang, kulihat namaku terpajang di sebuah kertas milik sebuah sekolah menengah yang berisi kumpulan nama-nama siswa yang diterima di sekolah tersebut. Sungguh, aku senang. Benar-benar senang. Tapi kesenangan itu tak lama. Semua sirna ketika kusadari tiada namamu disana. Tuhan, apa benar-benar aku harus berpisah dengannya? Tidakkah ada jalan lain? Tuhan, kumohon...

Aku tersentak. Tersadar dari lamunanku. Kembali wajahmu itu terbayang dalam otakku. Kamu. Iya, kamu. Cinta pertamaku.

Betapa aku iri dengan mereka yang masih bisa bertemu dengan orang yang selalu hadir dalam mimpi mereka. Tak terbendung jumlah cacian dalam hatiku ketika melihat mereka yang bisa ada dalam harimu. Kenapa mereka? Kenapa bukan aku?

Hatiku sakit. Hatiku menangis. Kenapa harus kita yang berpisah? Semua terasa terlalu cepat berlalu. Delapan tahun saling mengenal terasa percuma ketika kita harus berpisah hanya karena hal kecil ini.

Aku tahu, ini semua salahku. Aku tahu! Aku yang memilih meninggalkanmu. Aku yang mengambil keputusan bahwa kita memang harus berpisah.

Andai bisa kuputar waktu. Inginku bisa bertemu denganmu lagi. Bertemu dalam wujud kita yang sekarang. Kamu yang telah tumbuh menjadi seorang remaja menarik dan tampan. Tapi bukan, bukan karena itu aku ingin kaukembali ke hidupku. Tak ada banyak alasan mengapa aku ingin kita kembali bersama. Hanya karena aku masih menyayangimu. Hanya karena kamu satu-satunya orang yang mampu membuatku terbangun disaat yang lain terlelap. Hanya karena kamu-lah yang bisa membuatku menangis ketika kauhadir dalam mimpiku. Iya, kamu. Cinta pertamaku.

Aku merindukanmu. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kuharap, kita ‘kan bisa bertemu lagi. Nanti. Ketika kedewasaan telah menguasai kita. Ketika kita telah bisa menghapus rasa kecewa masing-masing akibat perpisahan kita dulu.
Kamu, cinta pertamaku, yang selalu hadir dalam mimpi indah maupun burukku. Aku disini, selalu mengingatmu. Selalu menyimpan rasa untukmu.

-C-

Sinar Mentari



Tentang kehilangan yang secara tiba-tiba…
Tentang mengikhlaskan yang terlanjur pergi…
Tentang perpisahan tanpa pesan terakhir…

“Hah? Serius?”
“Anak pindahan darimana?”
“Kan udah ada dua anak pindahan, masa lagi sih? Huh!”
Kelas sangat ribut sedari tadi. Isu akan adanya seorang anak baru, entah mengapa tiba-tiba membuat kelas menjadi rusuh. Cuma anak baru doang, heboh banget. Aku membenci keributan. Kesunyian lebih baik. Aku memang lebih suka sendiri dan menyepi. Seperti sekarang, hanya aku perempuan di kelas ini yang duduk di pojok belakang kelas. Duduk sendiri, tanpa teman sebangku.
Seorang wanita setengah baya masuk ke dalam kelas, si anak baru mengekori wali kelasku itu. Semua murid di kelas diam. Anak baru itu laki-laki. Tinggi badannya hampir sama denganku. Tubuhnya tegap, kulitnya sawo matang. Wajahnya terbilang tampan. Dia sedang memperkenalkan dirinya, tapi aku tidak mendengarkan apa yang dia sampaikan. Aku terlalu sibuk memandang... matanya. Bola matanya cokelat bening dan bersinar. Sangat indah. Dia berbeda dari yang lainnya. Dia....
“Ya, anak-anak, buka buku kalian halaman 71...”
Lamunanku buyar. Si anak baru telah hilang dari depan kelas. Saking seriusnya melamun, aku bahkan tak menyadari kalau dia sudah duduk... tepat di sampingku.
            “Aku belum dapat buku, boleh pinjam bukumu?”
            Suaranya sedikit mengejutkanku. Aku menggeser bukuku hingga berada di tengah-tengah meja.
            “Daritadi aku lihat kamu melamun. Kamu pasti nggak dengar aku memperkenalkan diri, ya,” tebaknya sembari tersenyum tipis.
            Aku tertawa pelan sambil mengangguk.
            “Namaku Sinar,” ucapnya. Dia mengulurkan tangannya.
             Sangat sesuai dengan matanya yang juga bersinar…
Aku membalas uluran tangan itu. “Mentari.”
**

            Bel istirahat baru saja berbunyi, tetapi teman-teman kelasku sudah hampir semuanya hilang dari kelas dan bermigrasi ke kantin. Bukan hal mengejutkan, sih. Ini biasa.
            “Mentari, kamu bantu Sinar, ya, untuk mengerjakan tugas yang Ibu berikan tadi. Dia kan belum dapat buku.”
“Iya, Bu,” jawabku. Setelah mendengar jawabanku, Ibu Guru pergi dari kelas. Dan, tinggalah aku, Sinar, dan beberapa orang lain―yang memilih menghabiskan jam istirahat nya dengan tertidur di bangku mereka―yang berada di dalam ruangan itu.
            “Kamu nggak ke kantin?” tanya Sinar.
            Aku menggeleng. “Aku nggak suka kantin. Ramai.”
            “Mau sepi? Ke hutan sana.” Sinar terkekeh pelan. “Eh, pinjam buku soal-nya dong, aku mau kerjain tugasnya sekarang.”
            Aku menyerahkan bukuku kepada Sinar, tanpa mempedulikan cemoohnya tadi.
            “Kamu emang suka melamun, sendiri, menjauh dari keramaian, dan... duduk di pojokan gini, ya?”
            “Semua itu menenangkan.” Pandanganku terlempar keluar jendela. “Dari sini aku juga bisa melihat dengan jelas langit biru. Apalagi kalau matahari lagi cerah. Indah banget. Tapi sayang, keindahan nya nggak abadi.”
            “Kata siapa? Cahaya matahari abadi kok.”
            “Abadi dari mananya? Dia cuma sesaat. Ketika malam menjelang, pasti cahaya nya hilang.”
            Sinar menghentikan tugasnya. “Cahaya nya lelah. Jadi, matahari memilih untuk mengistirahatkannya sejenak.”
            “Matahari kok bisa lelah.” Aku mencibir.
            “Bukan matahari nya, sih, yang lelah.”
            “Lalu?”
            “Sinar nya. Dia terlalu lelah untuk membagi dirinya agar bisa menyinari jagat raya.”
            Aku terdiam mendengar ucapan Sinar.
            “Tapi cinta itu pengorbanan, kan? Nah, karena terlalu mencintai semua manusia di bumi ini, sinar rela mengorbankan dirinya setiap hari, walau itu melelahkan. Agar manusia nggak kegelapan,” lanjut Sinar.
            “Oh,” jawabku singkat.
            Sinar mengerutkan bibirnya. “Capek-capek ngomong malah dijawab ‘oh’ aja. Dasar cewek.”
            Aku mengernyit. “Kok nyambung ke cewek?”
            “Iya, cewek kan gitu. Suka banget jawab singkat-singkat. Tapi kalau dia yang di kasih jawaban singkat, pasti marah. Cewek itu rumit.”
            “Termasuk aku?”
            Sinar menggeleng. “Seperti matahari... kamu itu menarik, bercahaya, dan bersinar. Sesuai dengan namamu, Mentari,” sahut Sinar.
            Aku tertawa. Kurasakan pipiku bersemu merah. “Kenapa namamu harus Sinar?”
            “Kenapa juga namamu harus Mentari?” tanyanya balik.
            Aku menaikkan bahu.
            “Mungkin kita emang ditakdirkan buat bersatu,” ucapnya. “Ehm, maksudku, karena aku Sinar dan kamu Mentari jadi Tuhan menakdirkan kita buat bertemu lalu menjadi... teman baik, mungkin?”
            Aku mengulum senyumku. “Oke. Teman baik.”
            Sinar tersenyum kearahku. Seperti namanya, aku melihat matanya yang lagi-lagi bersinar memandangku.
            Bel masuk kelas berbunyi tepat ketika aku dan Sinar mengakhiri percakapan kami siang itu.
**

            Hampir dua bulan berlalu sejak pertemuan pertamaku dengan Sinar. Perjanjian―menjadi teman baik―antara aku dan Sinar benar-benar kami tepati. Kami menjadi teman baik. Sangat baik. Aku pun senang berteman dengan Sinar. Dia cerdas. Dia juga tidak seperti laki-laki seumurannya yang pada umumnya suka mengganggu, usil, jail, dan sebagainya. Dia menarik. Aku menyukai itu. Aku menyukainya. Ya, suka. Hanya suka, tidak lebih.
            “Kamu udah selesai buat puisinya?” Sinar melihat buku tulisku. “Kalau udah selesai, kenapa nggak maju aja? Baca puisimu di depan.”
            “Nggak, ah. Aku malu.”
            “Apa kamu selalu begini?”
            “Iya.”
            Sinar menggeleng. “Gimana orang mau tahu kemampuanmu kalau kamu sendiri enggan menunjukkannya?”
            “Percuma namamu Mentari, kalau kamu nggak berani menunjukkan cahayamu. Kamu mampu bercahaya, ayolah,” kata Sinar mensupportku. “Tunjukkan sama Bu Guru dan teman-teman lainnya, kalau Mentari yang pendiam dan suka menyendiri itu sebenarnya memiliki cahaya yang disimpan rapat-rapat.”
            Aku menggigit bibir bawahku. “Tapi, Sinar...”
            “Baca puisimu ke depan.” Sinar memandangku. Memandang mataku. Dia menyihirku dengan sinar matanya.
Aku beranjak dari dudukku dan maju ke depan kelas untuk membaca puisi buatanku.
“Wah, Mentari, kamu mau membacakan puisimu?” Bu Guru kaget melihatku.  
Aku mengangguk.
“Ya, silahkan!”
Sepersekian detik sebelum aku membaca puisiku, kulihat Sinar tersenyum kearahku. Senyum yang menyemangatiku. Senyum yang membuatku berani untuk memperlihatkan cahaya ku kepada orang lain.
Aku mulai membaca puisiku...
            Ketika kau hadir
            Kukira memang takdir
            Kita bertemu untuk jadi satu
            Binar matamu yang bersinar
            Memberi arti hariku kini
            Siratkan kesan penuh pesan
            Dunia yang fana terasa bermakna
            Kuharap kita ‘kan abadi
            Seperti sinar mentari terhadap bumi
            Bercahaya hingga waktu yang tak menentu
            Bercahaya hingga ia lelah dan melemah  
“...terima kasih,” ucapku mengakhiri puisi itu.
Riuh tepuk tangan teman-teman dan guruku membuat rasa percaya diriku perlahan tumbuh. Benar kata Sinar, sudah seharusnya aku memperlihatkan cahaya yang kumiliki dan kusimpan rapat selama ini kepada orang lain.
“Mentari...”
Aku menoleh. “Iya, Bu?”
“Boleh Ibu minta satu hal, tidak?”
“Apa, Bu?”
“Tolong kirimkan puisimu ke redaksi majalah sekolah kita, Ibu ingin lihat puisimu disana,” sahut guruku. Senyum tergurat di wajahnya yang bulat.
Aku mengangguk senang. “Baik, Bu,” jawabku mantap. Aku kembali ke bangku, kembali duduk disebelah Sinar.
Sinar melirikku ketika aku sudah duduk. “Seperti yang aku katakan, kan...”
“Apa?”
“Kamu tadi berani menunjukkan cahayamu kepada mereka,” kata Sinar. “Kamu benar-benar bercahaya. Aku sampai silau melihatmu saat membaca puisi tadi.”
Aku terkekeh. “Bisa aja.”
“Puisi kamu juga bagus banget, dapat inspirasi darimana?”
Aku menghembuskan nafas pelan dan tersenyum tipis. “Dari matahari.”
Juga dari hadirmu, Sinar...
**

Namaku mulai sering terpajang di majalah-majalah―mulai dari majalah sekolah sampai majalah anak-anak―menemani puisiku disana. Semua berawal dari hari itu, hari dimana aku berani menampakkan cahayaku. Dan benar saja, kini aku merasa lebih menjadi seorang mentari. Kurasakan cahayaku benar-benar bersinar. Semua berkat semangat dan dorongan dari orang yang baru kukenal beberapa bulan ini. Murid baru yang sangat memotivasiku. Murid baru yang menginspirasiku. Murid baru yang jika namanya digabungkan dengan namaku maka akan berarti sunshine. Dialah, Sinar. Sinar yang matanya indah dan penuh binar.
Namun, akhir-akhir ini aku merasa ada yang berbeda dari Sinar. Dia tak secerah biasanya. Matanya tak lagi berbinar. Senyumnya tak lagi menyemangatiku. Perubahan ini semakin kurasakan, ketika Sinar sering absen sekolah. Apa dia sakit?
Hari ini Sinar sekolah setelah hampir satu minggu tak kulihat sosoknya di sebelahku. Dia berjalan gontai mendekati bangku nya dan bangku ku. Bangku kami.
“Kemana aja, sih? Lama banget bolosnya.” Aku memulai pembicaraan. Jujur, aku rindu bertutur sapa dengan Sinar. Aku merasakan kesunyian ketika dia tidak di sampingku. Padahal dulu, sebelum aku mengenalnya, aku bahkan tak suka ada orang yang duduk di dekatku. Kecuali orang itu orang tuaku. Aku membenci orang lain dan keramaian, aku mencintai kesunyian dan kesendirian. Tapi semua berbalik ketika Sinar hadir di hari-hariku.
“Ngawur!” Sinar mendaratkan jitakan kecil di keningku.
“Sakit, Sinar!” Aku menyergap pergelangan tangan Sinar. Lalu aku tersontak, tangannya panas. “Kamu sakit?”
Lho, tadi kan kamu yang bilang sakit.”
“Bukan. Maksudku, kamu lagi sakit? Tangan kamu panas.”
“Abis megang api,” candanya. Sinar tertawa renyah. Aku rindu tawa Sinar. Tapi kali ini aku tidak ikut tertawa. Sinar terlihat pucat, dia benar-benar sakit.
“Kamu sakit apa?”
Sinar terdiam. “Cuma demam.”
“Beneran?” Aku berusaha meyakinkan.
Sinar tidak menjawab. Melainkan mengalihkan pembicaraan kami. “Nanti pulang sekolah kamu ada lomba, ya?”
Aku mengangguk. “Iya. Kamu dat―”
“Maaf, aku nggak bisa datang.”
“Kenapa?” Nada suaraku menurun.
“Aku mau check-up ke rumah sakit.”
“Katanya cuma demam, kenapa sampai ke rumah sakit?”
“Demam kalau nggak ditangani juga bisa jadi parah, kan?”
“Iya, sih...”
Sinar tiba-tiba menggenggam tanganku. “Kamu harus tetap semangat. Kamu harus menang. Meski nggak ada aku.”
Aku menangguk. Kulepaskan genggaman itu. Ada perasaan aneh bersarang dalam hatiku.
**

Lomba baru saja berakhir. Dua buah piala ada digenggamanku; piala juara 2 membaca puisi dan piala juara puisi terfavorit. Aku menghampiri kedua orang tuaku dan guru yang mendampingiku di lomba itu. Mereka menyelamatiku secara bergantian. Tiba-tiba ditengah kebahagiaan itu, aku teringat Sinar. Dan pada saat yang bersamaan, handphoneku bergetar. Satu panggilan masuk dari Sinar.
“Halo...”
“Halo, ini Kak Mentari, ya?” Bukan Sinar. Tetapi suara seorang anak perempuan.
“I-iya. Ini siapa?”
“Ini Bintang, Kak. Adiknya Kak Sinar.”
“Oh, adiknya Sinar. Ada apa, ya?”
“Mmm, Kak Mentari bisa kesini sekarang nggak?”
“Hah? Kemana?”
“Ke rumah sakit, Kak.”
“Rumah sakit? Ngapain?”
“Kak Sinar kritis.”
**

“Sebenarnya Kak Sinar udah lama sakit. Dia bukan sakit demam. Sejak dua tahun lalu Kak Sinar mengidap penyakit leukemia. Tapi seperti yang kakak tahu, Kak Sinar itu orang yang optimis dan kuat banget pendiriannya. Dia nggak gampang nyerah. Buktinya, Kak Sinar mau rajin berobat. Padahal pengobatannya itu sakit banget.”
“Dia nggak pernah cerita ke aku tentang ini...”
“Kak Sinar nggak mau Kak Mentari sedih.”
Bintang dan aku duduk di depan ruang ICU di dampingi kedua orang tuaku dan orang tua Sinar. Bintang, adik Sinar satu-satunya yang kini berumur 12 tahun. Dia menceritakan segala tentang Sinar kepadaku. Sinar yang kuat. Sinar yang tidak mudah menyerah. Dan, Sinar yang redup dibalik cahayanya.
Aku bahkan tak menghitung berapa air mataku yang menetes sejak tiba di rumah sakit dan melihat Sinar terbaring lemah dengan infus dan selang-selang di tubuhnya.
“Beberapa hari ini keadaannya semakin parah. Tadi pagi dia memaksa untuk sekolah. Padahal Tante udah larang, tapi Sinar tetap keras kepala. Dia bilang mau ketemu kamu sekali lagi.” Mama Sinar menghapus air mata nya dengan tisu yang ia genggam.
“Aku boleh masuk nggak, Tan? Aku mau ketemu Sinar.”
“Kita ijin sama dokter dulu, ya.”
**

Aku bersama orang tua Sinar dan juga Bintang masuk ke ruangan serba putih itu. Kami menggunakan pakaian steril, seperti pakaian yang Sinar kenakan.
Ruangan itu sunyi senyap. Seperti suasana yang kusukai dulu. Tidak ada suara selain suara alat pendeteksi detak jantung Sinar. Aku mendekati Sinar. Air mataku tak tertahan. Aku masih tidak menyangka dengan apa yang kulihat saat ini. Sinar, orang yang membuatku berani bercahaya. Orang yang mengajariku bagaimana menunjukkan cahaya. Dan orang yang meyakiniku bahwa cahaya ku akan selalu bersinar.
Mata Sinar yang biasanya indah dan penuh binar, kini tertutup rapat. Bibirnya yang selalu tersenyum kepadaku, kini mengatup dan pucat. Sinarnya yang biasa menyemangatiku, kini redup tak cerah sedikitpun.
 Apa kamu sudah benar-benar lelah, Sinar? Tapi kenapa kamu nggak meninggalkan sedikitpun salam perpisahan? Buka matamu, Sinar. Sekali lagi. Sebentar saja.
“Sinar, bangun...,” lirihku. Aku menangis bagaikan anak kecil yang terpisah dari orang tuanya di keramaian. Doa terus kupanjatkan dalam hati. Berharap Tuhan membuka mata Sinar. Mengembalikan cahaya nya seperti dulu.
Namun, suara alat pendeteksi jantung itu membuatku semakin ketakutan. Takut kehilangan Sinar. Takut kehilangan dia yang membuatku bercahaya. Aku menggenggam jemari Sinar dengan erat. Tapi dokter malah menyuruhku dan juga keluarga Sinar untuk keluar dari ruangan itu.
Aku, orang tuaku, dan keluarga Sinar berdiri di depan ruang ICU sembari memanjatkan doa dalam hati masing-masing. Doa terbaik untuk Sinar. Untuk Sinar yang kami semua sangat cintai. Sekilas aku melihat orang tua Sinar tak menangis sekencang tangisku, mereka terlihat tegar dan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Mungkin mereka juga sudah mengetahui, bahwa putranya telah lelah memaksakan sinarnya untuk orang lain. Bahwa Sinar sudah sepantasnya untuk beristirahat.
Dokter keluar dari ruangan dimana Sinar berada. Air mataku semakin deras. Rasa takut semakin menghantuiku. Aku tidak siap mendengar jawaban laki-laki berjas putih itu.
Dokter mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Dia memandang kami semua dengan tatapan sedih. Aku benar-benar lemas melihat ekspresi dokter. Aku merasa air mataku akan benar-benar habis setelah ini.
Kemudian dokter itu menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya dia menggeleng pelan kepada kami semua.
Aku tidak mendengar ada yang menangis. Aku hanya merasakan kaki ku lemas. Mataku remang-remang. Air mataku menetes tak terkendali. Sinarku redup, sinarku hilang. Hingga akhirnya semua terlihat gelap. Gelap, tanpa sinar setitikpun.
**

Ruangan itu semakin dekat denganku. Kakiku terasa bergetar ketika aku melangkah masuk ke dalamnya. Semua yang ada disana tersenyum iba memandangku. Mereka tahu bahwa Sinar telah tak lagi ada. Mereka tahu bahwa aku-lah orang terdekat Sinar di kelas itu. Mereka tahu bahwa aku yang paling kehilangan diantara semua yang ada disana.
Aku duduk di bangku ku. Bangku pojok belakang kelas yang sunyi, sepi, dan hanya ada aku disana. Tak ada lagi Sinar yang duduk di sebelahku. Tak ada lagi suara yang menyemangatiku. Tak ada lagi orang yang kuajak berbincang tentang keabadian sinar mentari.
Aku menenggelamkan wajahku diatas kedua tanganku yang terlipat di atas meja. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak bisa mengelak, rasa kehilangan itu masih ada. Rindu menyeruak di relung hatiku. Semua terasa berbeda tanpa Sinar disini. Semua tak lagi sama tanpa Sinar bersamaku. Aku tak bisa memungkiri rasa sakit dalam hatiku. Aku tak mampu menerima kenyataan bahwa Sinar sudah tak lagi ada di dunia ini. Semua terlalu cepat. Sinar tak seharusnya meninggalkanku secepat ini. Mungkin Sinar memang lelah. Tapi tak semestinya dia meninggalkanku secara tiba-tiba. Dia tidak meninggalkan apapun. Salam perpisahan, pesan terakhir, atau benda yang bisa kujadikan kenangan. Apa Sinar ingin aku melupakannya setelah dia pergi? Tapi bagaimana mungkin aku mampu melupakan seseorang yang mengajariku bercahaya...
Aku kembali menangis ketika bayangan Sinar silih berganti menghantui pikiranku. Sinar menjadi murid baru, binar cahaya pada mata Sinar, semangat yang Sinar berikan untukku, wajah pucat Sinar, dan suara pendeteksi jantung yang mengakhiri segala perjuangan Sinar. Semua terasa sangat nyata.
Andai aku mampu memutar waktu. Aku ingin bertemu Sinar. Sekali lagi. Aku ingin melihat senyumnya. Aku ingin memandang sinar indah yang terpancar dari kedua bola matanya. Aku ingin mengulang semua yang pernah kulalui bersama Sinar. Aku ingin Sinar kembali, walau hanya sesaat.
Aku mengangkat wajahku yang sembab dan basah karena air mata. Aku menengok keluar jendela. Di luar tak cerah sedikitpun. Matahari bersembunyi, cahaya nya tak ada. Awan hitam menguasai langit. Alam menangis. Hujan membasahi bumi ini.
Aku memejamkan mataku, berusaha merasakan keberadaan Sinar walau tak mampu kulihat secara nyata. Benar, aku merasakan itu. Kurasakan sinar matanya yang maya memandangku. Kurasakan senyum semu nya ia torehkan untukku.
Mataku terbuka perlahan. Hujan telah hilang. Awan tak lagi hitam. Matahari memunculkan keindahannya di balik awan putih. Sinarnya terpancar kearahku. Aku semakin meyakini diriku, bahwa Sinar masih ada.
Sinar, aku yakin kamu masih ada. Hanya tak bisa kumiliki secara nyata.
-C-